CINTA GADIS PEMBAWA CETHING
Cahaya senthir
bergoyang-goyang tersenggol angin malam yang semakin dingin. Setelah seharian berjualan nasi di sekolah, Emak masih
sibuk memasang kancing-kancing baju seragam. Seragam-seragam itu besok pagi
sudah harus diserahkan ke pabrik baju yang terletak dekat rumah. Selain
berjualan nasi, setiap malam Emak juga bekerja memasang kancing baju untuk
mencukupi kebutuhan sembilan anaknya.
Tumpukan baju-baju seragam yang banyak, membuat Emak
harus begadang semalaman di bawah remang senthir.
Semua anaknya sudah terlelap dalam buaian mimpi mereka sendiri. Malam pun
semakin sunyi sepi, hanya terdengar suara nyanyian hewan malam. Shuut..shuuut.., suara banang yang
diberi malam atau plastisin, menambah
indah nyanyian malam ini. Tepat jam setengah satu, Emak beranjak dari kursi,
semua baju sudah terpasang kancing. Emak lalu merebahkan punggung tuanya yang
masih kokoh ke dhipan yang hanya
beralas tikar pandan.
Pagi-pagi sekali Emak sudah berjalan melewati sawah
menuju sekolah untuk berjualan nasi. Anak-anaknya melakukan tugasnya
masing-masing. Dari sembilan anak Emak, hanya satu yang perempuan, namanya
Asih. Asih anak ke 5, semua kakaknya sudah tidak sekolah lagi, mereka sudah
bekerja, walaupun pekerjaannya tidak tetap. Sedangkan Asih baru saja lulus SMA,
adik-adiknya ada tiga yang masih sekolah dan yang masih kecil ada satu. Asih saat
lulus SMA tidak mendapat ijasah karena Emak tidak mampu membayar uang
pengambilan ijasah.
Asih
setiap pagi bertugas mengambil nasi di tempat Emak berjualan dan menjaga
adiknya yang masih kecil. Emak memang selalu sudah menyiapkan nasi untuk
anak-anaknya di warung tempatnya berjualan.
“ Sih, ini cething buat ngambil nasi ke Emak. Nanti
jalannya lewat sawah saja biar cepet!” suara Mas Parno ( kakak Asih yang
pertama) menghentikan Asih yang sedang merapikan kamarnya.
“ Iya, mas.” Sahut Asih, yang kemudian bergegas mengambil
cething dan berjalan menuju warung
Emak.
Asih berjalan bertelanjang kaki melewati sawah-sawah yang
masih berembun. Sesekali ia bernyanyi dan memainkan tangannya, memecah
butiran-butiran embun di pucuk padi yang masih hijau.
“ Mak, Asih mau ambil nasinya.” Kata Asih saat sampai di
warung Emak.
“ Ya, sih. Itu nasinya di dalam lemari.” Jawab Emak yang
sedang mencuci panci di belakang. Kemudian Emak menghampiri Asih.
“ Sih, ini uang buat bayar spp adikmu.” Kata Emak sambil
memberikan uang dua puluh ribuan kepada Asih.
“ Ya, Mak. Asih pulang dulu, nanti kalau Joko sudah
tidur, Asih kesini lagi bantuin Emak.” Kata Asih yang kemudian berpamitan
pulang membawa se-cething nasi.
Setiap
hari Asih melakukan tugasnya dengan baik, namun ia sering melamun memikirkan
keluarganya yang serba kekurangan. Adik-adiknya yang semakin banyak
kebutuhannya, dan kakak-kakaknya yang masih bekerja srabutan. Kemudian suatu
hari teman Asih saat SMA datang kerumah Asih.
“Asih, gimana kabarnya? Lama ya gak ketemu. Lagi apa
nih?” sapa Nurlela saat bertemu dengan Asih.
“Baik, Nur. Iya lumayan lama ya. Kamu sekarang sibuk apa
Nur?” jawab Asih sambil tersenyum dan memeluk Nurlela, sahabat karibnya waktu
SMA.
“Lagi belum sibuk apa-apa, masih nganggur di rumah aja, hehee. Lha kamu, Sih?”
“Sama, Nur. Aku juga nganggur
di rumah, paling cuma bantu-bantu Emak di warung, sama njagain adikku.” Kata
Asih sambil mempersilahkan Nur duduk.
“Kamu nggak nyoba cari kerjaan, Sih?”
“Belum, masih bingung Nur. Lha kamu sendiri udah nyoba
ngelamar kerjaan ?”
“Rencananya aku mau ikut kakakku kerja di Jakarta, kalau
kamu mau ikut nyari kerja di sana, ayo!”
“Ehmm... gimana ya, Nur? Aku mau, tapi....” Asih berhenti
berkata dan berpikir.
“Udah... di dicoba dulu aja, kan bisa bantu-bantu nyukupin
kebutuhan keluargamu, Sih.”Nur mencoba meyakinkan Asih yang masih ragu.
“ Ya udah, Nur. Nanti aku coba bicara dulu sama Emak.”
“Nah gitu dong, hehee. Kalau udah yakin, nanti hubungi
aku ya, Sih!” kata Nur yang kemudian
berpamitan pulang.
Malam harinya, Asih bicara sama Emak tentang rencananya
merantau ke Jakarta bersama Nurlaeli.
“Mak, Asih mau bicara sesuatu sama Emak.” Kata Asih pada
Emak yang sedang duduk memasang kancing.
“Ada apa, Asih? Bicara saja, gitu aja kok minta izin,
kayak mau apa aja.”kata Emak yang masih terus fokus pada pekerjaannya.
“ Begini, Mak. Tadi temen Asih dateng ke rumah, terus dia
ngajakin Asih kerja di Jakarta.”
“Kamu mau merantau, Sih?” Emak kemudian menghentikan
pekerjaannya dan duduk berhadapan dengan Asih. Pembicaraan mereka pun menjadi sedikit
serius.
“Iya, Mak. Asih mau cari tambahan biaya hidup buat
adik-adik juga biar bisa bantu Emak.”
“Emak ngizinin aja, tapi kamu sudah yakin?” tanya Emak
pada Asih yang masih terlihat sedikit ragu-ragu.
Asih
berpikir kalau dirinya merantau, siapa yang akan mengurus adik-adiknya saat
kakak-kakaknya pergi dan emaknya bekerja? Tapi kalau tidak bekerja, Asih juga
tidak bisa membantu biaya adik-adiknya sekolah. Ia terus berpikir dalam diam.
“Asih,
kalau kamu yakin mau merantau ke Jakarta, ya pergi saja, Emak merestui. Urusan
adik-adikmu, gampang nanti kan ada kakakmu yang bantu ngurus. Tapi kalau kamu
nggak yakin, ya sudah, cari kerja di sini saja.” Kata Emak pada Asih yang masih
terdiam.
“Ya,
Mak. Asih yakin mau mencoba cari kerja di Jakarta.” Kata Asih sambil tersenyum
pada Emak.
“Ya
sudah, ayo tidur, Emak juga sudah selesai memasang kancingnya.” Kata Emak,
kemudian masuk ke kamar bersama Asih.
Selang
dua hari, Asih bersama Nurlaeli dan kakaknya Nurlela, berangkat ke Jakarta
dengan naik bis.
Di
Jakarta, Asih dan Nurlela bekerja di sebuah pabrik busana. Asih bekerja sebagai
staf sekertaris yang mencatat jumlah keluar masuk barang, sedangkan Nurlela
bekerja sebagai penjahit karena Nur memang sudah ahli dalam menjahit. Setiap
malam, saat awal di Jakarta, Asih selalu menangis ingin pulang. Tapi selalu di
hibur oleh teman-teman. Nur juga selalu memberi ruang pada Asih untuk becerita.
Keduanya sangat akrab dan telah menjadi sahabat karib.
Suatu
hari, ada seorang karyawan pabrik yang bernama Firman. Tubuhnya tinggi
semampai, putih, rapi dan ramah. Ia mulai dekat dengan Asih, selalu pergi
bersama-sama dan Firman pun selau perhatian pada Asih. Asih pun mulai tertarik
pada Firman, di hatinya sudah mulai bertebaran benih-benih cinta pada Firman.
Namun suatu hari, Nur bercerita sesuatu pada Asih.
“Sih,
aku lagi seneng banget...” kata Nur dengan tersenyum lebar. Tampak di matanya
binar-binar kebahagiaan yang menarik senyum Asih.
“Seneng
kenapa sih, Nur? Sampe senyum-senyum terus. Gajimu dinaikin?” tanya Asih heran.
“Tau
nggak, Sih? Aku tadi baru jadian sama Firman. Seneng banget kan? Hehee..”
Senyum
Asih tiba-tiba luluh, hatinya mulai dirasuki rasa perih yang menyayat. Ia diam,
seakan-akan ekspresi wajahnya hilang. Pandangannya menerawang dan mata air
matanya hampir tumpah. Namun ia tahan sekuat-kuatnya, tak mau merusak
kebahagiaan sahabatnya itu.
“Sih..
Asih.. kok malah diem, kamu kenapa? Sakit?” tanya Nur saat melihat sahabatnya
hanya diam.
“Eh apa, Nur? Sori..sori.. gak denger tadi.” Kata Asih
tersenyum dengan menahan tangis.
“Ah.. Asih, makanya jangan bengong terus. Kenapa sih
kamu? Mikirin apaan emang?”
“Enggak kok, nggak mikirin apa-apa. Hehee... Selamat deh
buat sahabatku yang baru aja jadian. Traktirannya jangan lupa lho..!”
“Iya, iya, beres deh. Aku duluan ya, Sih. Jangan bengong
terus!” kata Nur meninggalkan Asih dengan senyuman.
Malam ini, Asih tidak bisa tidur, pikirannya kacau, lalu
ia sambar buku gambar dan mulai melukis sebuah lukisan abstrak. Asih memang
hobi melukis, lukisannya banyak yang diminta teman-temannya. Dulu, ia ingin
melanjutkan ke sekolah seni, tapi mimpinya hanya tinggal mimpi. Dengan melukis,
ia buang semua kesedihannya dan sakit hatinya. Setelah menggambar, ia tak mau
lagi bersedih atas apa yang sudah terjadi, ia bertekad akan menyingkirkan
perasaanya.
Hari sudah berganti, lama Asih tak melihat Firman, kata
Nur, Firman sedang bertugas di luar kota. Dan suatu hari saat Firman sudah
kembali, Firman memberi oleh-oleh kepada Nur dan juga Asih.
“Nur, aku bawain hadiah buat kamu.” Kata Firman saat
bertemu dengan Nur dan Asih.
“Iya, makasih ya, Fir. Kamu di sana selalu sehat kan? Aku
kepikiran kamu terus, kamu jarang ngubungin aku sih. Kangen tau.!” Kata Nur
dengan manja.
“Cieee.. yang lagi kangen-kangenan. Eh, Fir, mana nih
oleh-oleh buat aku? Masa Cuma Nur aja? Aku nggak nih?” kata Asih dengan
candaan.
“Oiya, nih ada kok, Sih, tenang aja. Ini buat kamu.” Kata
Firman sambil memberikan bingkisan cantik pada Nur.
“Eh, aku Cuma becanda kok. Hehee, tapi kalau maksa, sini
deh aku terima. Makasih ya, Fir.” Asih menerima dengan senyuman.
Selang beberapa hari, Nur tiba-tiba marah pada Asih, ia
tak mau bicara pada Asih. Dan jika bicara pun, ia tak mau memandang Asih. Asih
pun heran melihat tingkah sahabatnya itu.
“Nur,
kamu kenapa? Marah sama aku?” tanya Asih saat bertemu Nur di tempat makan.
“
Nggak usah sok polos deh kam, Sih. Aku tahu kok kalau kamu suka kan sama
Firman? Tega ya kamu, Nur? Aku ini sahabatmu dan Firman itu pacarku. Aku yang
pacarnya aja cuma dibeliin kaos murahan, tapi kamu? Malah minta dibeliin tas,
mahal banget lagi.” Kata Nur penuh emosi.
“Maksud kamu apa sih, Nur? Tega kenapa?” tanya Asih yang
belum mengerti.
“Aku minta mulai sekarang jangan lagi deh kamu deketin
Firman, aku juga akan ma’afin kamu.” Kata Nur dengan suara yang mulai halus.
“Nur, aku jelasin ya, jujur aku dulu emang pernah suka
sama Firman, tapi setelah dia jadian sama kamu, aku udah nggak ada rasa lagi.
Jadi, nggak mungkin aku deketin Fiman buat menjalin hubungan lebih dari seorang
temen.” Kata Asih mencoba menjelaskan.
“Ya , Sih. Aku minta ma’af ya. Aku terlalu emosi tadi.”
“Iya, Nur, nggak papa. Aku maklum kok.” Kata Asih
tersenyum.
Setelah kejadian itu, Nur dan Asih mulai akrab lagi. Sampai
suatu saat, Nur mencoba menjodoh-jodohkan Asih dengan kakaknya. Asih tidak suka
dengan cara Nur yang mengatur urusan hatinya dan Asih pun nggak punya perasaan
untuk kakaknya Nur.
Akhirnya, Asih memutuskan untuk kembali ke kampungnya. Ia
pulang dengan membawa setumpuk kaos untuk oleh-oleh adik-adiknya dan saudara-saudaranya
di kampung. Setiap gajian, Asih memang selalu menyisihkan uangnya untuk membeli
oleh-oleh untuk keluarganya di kampung. Setelah pulang ke kampung, ia bekerja
menjadi pelayan toko baju di sebuah pasar tradisional.
Emaknya pun sekarang sudah tidak lagi bekerja memasang
kancing, beliau sudah menjadi karyawan tetap di sebuah sekolah. Emak bekerja
sebagai tukang bersih-bersih dan tetap berjualan nasi di sekolah tersebut. Asih
pun sering membantu emaknya bersih-bersih sekolah setelah pulang dari toko.
Suatu hari, teman Asih yang bekerja di pabrik yang sama,
namanya Darti datang ke rumah Asih. Darti pun juga sudah tidak lagi bekerja di
pabrik. Ia memutuskan menjadi seorang buruh tani di kampungnya. Ia datang ke
rumah Asih bersama teman-temannya dari kampungnya,
Salah satu teman Darti bernama Tresno, ia seoarang kusir
dokar di pasar tradisional , sama dengan pasar tempat Asih bekerja. Saat
pertama kali bertemu Asih, Tresno sudah mulai tertarik. Ia selalu mencuri-curi
pandang pada Asih, kemudian meminta Darti untuk memperkenalkannya pada Asih.
“Sih, aku ke sini sama temenku juga, satu kampung
denganku, kenalin namanya Tresno. Dia kerjanya juga di pasar tempat kamu kerja
lho.” Kata Darti sambil menunjukkan Tresno pada Asih.
“Owh, aku Asih, Mas Tresno, salam kenal.” Kata Asih
dengan senyum manis.
Keduanya pun saling berjabat tangan. Tersno pun jadi
sering mengunjungi Asih, terkadang bersama temannya pergi ke rumah Asih. Sering
juga Tresno mengunjungi toko tempat Asih bekerja.
Suatu hari, Tresno datang ke tempat kerja Asih dan
mengantar Asih pulang ke rumah dengan menggunakan sepeda onthel tua. Tresno memang seorang lelaki sederhana dan penuh
perhatian. Ia tidak terlalu tampan, namun keluguannya membuat ia disukai oleh
banyak orang. Tresno bekerja sebagai kusir dokar untuk membiayai sekolah
adik-adiknya yang duduk di bangku SMA, padahal ia sendiri hanya lulusan SD.
Orang tuanya bekerja sebagai buruh tani yang masih serabutan.
Tersno ingin hubungannya dengan Asih serius. Suatu hari,
ia datang melamar Asih. Namun Asih belum yakin, ia belum mempunyai perasaan
cinta pada Tresno. Tetapi Asih juga tidak menolak lamaran Tresno, ia tak mau
menyakiti perasaan lelaki baik seperti Tresno. Dan Asih meminta waktu untuk
memikirkannya. Setelah berpikir, dan telah meyakinkan hatinya, Asih menemui
Tersno. Asih menerima lamaran Tresno, ia pun memberanikan jujur, bahwa untuk
saat ini ia masih mencoba untuk mencintai Tresno.
Tresno pun menerimanya pernyataan Asih dengan lapang
dada, dan ia sangat senang. Setelah selang
beberapa minggu, Tresno dan Asih menikah. Mereka terlihat bahagia, Tresno tak
henti-hentinya tersenyum pada semua tamu. Dan Asih pun tersenyum manis melihat
orang-orang di sekitarnya bahagia.
Asih tak lagi memikirkan orang yang dulu pernah ia cintai,
kini ia sudah punya seseorang yang setia mencintainya dan orang itu juga harus
ia cintai dan ia sayangi.
Selang beberapa bulan, Asih mendapat kabar kalau
sahabatnya, Nurlela, akan menikah dengan Firman. Asih pun ikut bahagia dan
mengucapkan selamat kepada mereka melalui sepucuk surat. Ia tak bisa menghadiri
pernikahan sahabatnya itu, karena pernikahannya dilangsungkan di Bandung,
tempat kelahiran Firman.
0 komentar:
Posting Komentar